Your Trusted 24 Hours Brook Service Provider !
Sudah Saatnya Jeruk Lokal Kuasai Impor

Sudah Saatnya Jeruk Lokal Kuasai Impor

293513680808small-jeruk-navel-3 Bisnis-jabar.com, MALANG–Buah impor tidak selamanya mengungguli buah lokal, baik rasa maupun tampilan fisiknya, lebih-lebih harganya. Tidak sedikit buah lokal yang rasa dan kualitasnya lebih baik dari buah impor. Buah jeruk (Citrus), misalnya, berbagai jenis jeruk yang bisa tumbuh subur hampir di seluruh wilayah Indonesia merupakan potensi luar biasa yang masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat Indonesia sendiri. Memang, masih ada beberapa tampilan buah jeruk lokal yang tidak sekemilau jeruk impor. Namun, untuk ukuran rasa, jeruk lokal tidak kalah, bahkan jeruk produksi dalam negeri ini justru lebih segar, meski tanpa pengawet atau suntikan penambah rasa manis. “Potensi jeruk lokal untuk bersaing dengan jeruk impor di Tanah Air dan menembus pasar dunia sangat terbuka, apalagi jeruk lokal saat ini kualitasnya juga tidak kalah,” kata salah seorang petani jeruk manis Pacitan (jeruk baby) dan jeruk keprok di kawasan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur, Suyai. Bahkan, lanjutnya, kemasan fisiknya juga tidak kalah “cantik” dengan buah impor. Apalagi, setelah ada perusahaan swasta yang mau membantu pengemasan dan menyediakan peralatan yang mampu menekan angka buah yang rusak ketika dalam proses pengiriman dari Batu ke Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Buah jeruk hasil tanaman petani di Batu dan Kecamatan Dau, Kabupaten Malang itu pun mulai merambah pasar-pasar modern, seperti Hypermart dan Giant menggantikan buah jeruk impor. Apalagi buah jeruk lokal tersebut juga cukup beragam jenisnya, sehingga masyarakat lebih leluasa menentukan pilihannya. Secara kuantitatif, Suyai mengaku setiap sepekan sekali dirinya mengirim jeruk baby kualitas terbaik ke Jakarta sebanyak 5 ton. Jeruk baby yang dikirim tersebut mampu bertahan antara 15 hari hingga satu bulan dengan cara disimpan di lemari pendingin. Jeruk baby dikirim ke Jakarta itu diperoleh dari para petani jeruk di Tlekung, ada juga dari petani jeruk di Dau, Kabupaten Malang seharga Rp5.500 per kilogram untuk kualitas baik dan Rp3 ribu per kilogram untuk kualitas sedang. Meskipun buah lokal mampu bersaing dengan buah impor, baik kualitas rasa maupun kemasannya, namun konsumen di Tanah Air masih banyak yang memilih buah impor. “Masyarakat kita ini kan masih impor ‘minded’, sehingga yang berbau-bau impor masih menjadi pilihan utamanya, padahal buah lokal jauh lebih segar ketimbang buah impor,” katanya, menegaskan. Hal itu dibenarkan Marketing and Communications Manager PT Sewu Segar Nusantara (SSN) yang menjadi partner para petani jeruk di Tlekung maupun Dau, Luthfiany Azwawie. Ia mengatakan pihaknya berkomitmen untuk memasarkan buah produk lokal, bahkan sebagian besar buah yang dipasarkan saat ini adalah produk pertanian dalam negeri. Ke depan, katanya, kemitraan yang dijalin dengan petani lebih luas lagi, tidak hanya hasil buahnya yang dibeli, tapi juga mulai dari pembibitan, penanaman, pemukukan hingga panen, para petani didampingi dan diedukasi agar kualitas dan kuantitas buah yang dihasilkan lebih bagus lagi. “Kami berharap petani dan PT SSN nantinya juga bermitra dengan Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropis (Balitjestro) agar mampu meningkatkan kualitas produk pertanian. Dengan demikian, buah lokal bisa lebih bersaing dengan buah impor,” ujarnya. Untuk saat ini, lanjutnya, pihaknya masih belum mampu memenuhi kebutuhan pasar dengan produksi dalam negeri seluruhnya, karena ada beberapa jenis buah yang amsih belum bisa ditanam dan tumbuh di Indonesia, seperi kiwi dan pear. Ekspor Hasil produksi tanaman jeruk di Tlekung, Batu maupun di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, khususnya jeruk baby, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, tapi juga ekspor ke beberapa negara tetangga. Produk buah jeruk yang mampu menembus pasar ekspor tersebut memang tidak banyak dan baru jenis Jeruk Baby serta Keprok 55 Batu. Dalam rentang sepekan, jenis buah yang sedang getol dikembangkan di Kota Batu ini baru lima ton. Lima ton jeruk tersebut, hanya yang dikirim ke PT Sewu Segar Nusantara (SSN). Dan, jeruk yang dikirim melalui proses ketat itu dihasilkan oleh sekitar 100 orang petani dengan lahan sekitar 25 hektare di Desa Tlekung dan 600 hektare di Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Dalam proses sortir, kata Suyai, dari lima ton yang dikemas dan berlebel, hanya sekitar dua ton yang mampu memenuhi standar ekspor. Sedangkan sisanya dijual di pasar lokal, baik di Jakarta maupun Kalimantan. Negara tujuan ekspor untuk saat ini baru Malaysia dan Brunei Darusalam. “Kami harus mengambil jeruk kualitas super untuk memenuhi pasaran ekspor maupun dalam negeri,” tegas Manajer Produksi PT SSN Rully Hardyansah. Ia berjanji secara bertahap akan terus meningkatkan kualitas produk buah yang dipasarkan, tidak hanya jeruk, tapi juga nenas, jambu tanpa biji, pisang emas maupun pisang cavendish yang ditanam di lahan seluas 1.500 hektare di Lampung. “Dengan semakin membaiknya kualitas rasa maupun kemasan dan jumlah yang dipasarkan, kita berharap buah lokal ini mampu menggeser posisi buah impor yang beberapa tahun terakhir ini membanjiri pasar di Tanah Air, bahkan pasar ekspor pun akan terus kita tingkatkan,” ujarnya. Untuk meningkatkan kualitas dan memperbanyak variasi kenis buah yang bakal dipasarkan ke depan, pihaknya sudah mulai menggandeng Balitjestro Kementerian Pertanian yang berkedudukan di Batu. Kasi Pelayanan Teknis dan Jasa Penelitian (Balitjestro) Harwanto mengakui buah impor masih mendominasi di pasar dalam negeri.   Data yang dibeberkan Balitjestro, setiap tahun rata?rata ada 467.3420 ton buah impor senilai Rp3 triliun yang masuk. Sedangkan produk dalam negeri yang diekspor ke luar negeri per tahunnya rata-rata hanya 207.232 ton senilai Rp1 triliun. “Sekarang ini kita masih lebih banyak impor dibanding memasarkan produk kita sendiri. Saat ini kami terus berupaya meningkatkan kualitas buah dalam negeri melalui penelitian, termasuk mengirim banyak bibtr ke berbagai daerah,” katanya. Pada tahun lalu disebar sebanyak 150 ribu bibit jeruk dari lima varietas ke 22 provinsi. Pada tahun ini ditarget ada 500 ribu bibit jeruk yang disebar ke petani dan tahun depan ditargetkan sebanyak satu juta bibit jeruk yang bisa diserap petani lokal. Varietas buah jeruk yang telah dilepas Balitjestro hingga saat ini mencapai 228. “Tahun depan Insya Allah kami akan melepas varietas baru hasil persilangan, yakni varietas Jeruk Harapan,” katanya, menjelaskan. Varietas jeruk yang saat ini banyak beredar di pasaran di antaranya adalah varietas Jeruk Soe, Jeruk Pamelo, Jeruk Siam, Jeruk Baby, Jeruk Keprok, dan Jeruk Kinabalu.(Antara/k29)

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *