Your Trusted 24 Hours Brook Service Provider !
Meramu Kualitas dan Label agar Lebih Kredibel

Meramu Kualitas dan Label agar Lebih Kredibel

35meramu-kualitas Meramu Kualitas dan Label agar Lebih Kredibel Sewu Segar Nusantara Mengusung Tiga Merek Berbeda Untuk Memasarkan Produk Buahnya Di antara beragam jenis bisnis seputar komoditas pangan pokok di Indonesia, boleh jadi para pedagang buah-buahan yang paling sulit dalam menekuni usahanya. Pasalnya, dibanding dengan beras, minyak sawit, atau gula misalnya, volume konsumsi buah lebih sedikit. Selain itu, buah-buahan tidak tahan lama dan harus cepat dipasarkan ke tangan konsumen. Belakangan ini, kesulitan semakin bertambah dengan serbuan buah impor. Nah, agar dapat mempertahankan usahanya, para produsen dan distributor buah perlu melahirkan inovasi produk dan jalur pemasaran yang baru mulai dari ?pasar basah hingga toko ritel modern. Inilah yang melatari aksi PT Sewu Segar Nusantara, perusahaan milik Grup Sewu, merilis varian baru nanas, yaitu Nanas Honi, belum lama ini. Nanas yang diklaim lebih manis ketimbang nanas asal Subang maupun Bogor ini merupakan varian baru produknya selain crystal guava yang dibuat tanpa biji, honey melon, dan lain-lain. Tujuannya untuk memperbesar volume penjualan Sewu Segar. Sedangkan yang memproduksi buah-buahan itu perusahaan afiliasinya: PT Giant Pineapple dan PT Nusantara Tropical Farm. Selain memperbesar volume penjualan dengan merilis produk baru, Sewu Segar sebenarnya sudah memiliki strategi untuk menguasai pasar buah di tanah air. Perusahaan yang berdiri tahun 1995 ini melabeli buah dagangannya dengan merek sunpride. Uniknya, semula sunpride adalah merek pisang yang diekspor oleh Nusantara Tropical ke luar negeri. Namun, sejak tahun 2000, sunpride menjadi merek yang disematkan Sewu Segar pada aneka produk buahnya di pasar lokal. Maklum, potensi pasar domestik cukup besar. Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian, konsumsi buah dan sayuran oleh masyarakat Indonesia masih sedikit yaitu hampir 40 kilogram per orang dalam setahun. Padahal, organisasi pangan dunia FAO merekomendasi kecukupan konsumsi buah dan sayuran sebanyak 65,75 kilogram per orang. Atas dasar itulah, Sewu Segar juga memperkenalkan dua merek baru, yaitu Sweety dan Sunfresh. Dua brand ini dibuat agar positioning brand menjadi lebih jelas,kata Martin M Widjaja, Acting Chief Executive Officer Sewu Segar. Perusahaan milik taipan, Dasuki Ongkosubroto ini menggunakan ketiga merek tersebut untuk membagi target pasar konsumennya. sunpride ditujukan untuk konsumen dari kalangan sosial ekonomi A alias menengah-atas. Alhasil, merek ini menjadi produk premium yang khusus dipasarkan di hipermarket dan bersaing dengan buah impor sejenis. Sedangkan Sunfresh untuk konsumen yang berbelanja buah-buahan di pasar tradisional. Bagi konsumen yang khusus mencari buah kualitas baik namun harga murah, bisa membeli Sweety. Ini khusus bagi konsumen yang mementingkan value for money, tapi berbelanja di pasar ritel modern, imbuh Martin. Secara fisik, menurut Marketing and Communication Manager Sewu Segar Luthfiany Azwawie, sebenarnya perbedaan produk ketiga merek itu cuma terletak pada ukuran buahnya. Sedangkan kualitas dan rasanya sama saja karena berasal dari kebun yang sama. Sebelumnya, Sewu Segar tidak melabeli buah yang dilempar ke pasar tradisional. Namun ketika ditempelkan label Sunfresh, banyak konsumen yang mau membeli aneka buah tersebut. Artinya, target pemberian merek tersebut bisa tercapai. Banyak penggemar setia pisang cavendish lebih memilih merek sunpride, ujar Martin. Pemberian merek itu juga menjadi alat kontrol perusahaan agar bisa selalu menyajikan produk yang segar dengan kualitas terjaga. Menjaga kualitas buah Dengan mengusung tiga merek berbeda kelas tersebut, Sewu Segar juga membidik pasar di luar negeri. Mereka telah mendaftarkan brand sunpride di negara China, Hong Kong, Jepang, Singapura, Malaysia, Korea, Filipina, Thailand, Vietnam. Martin bilang, sejumlah negara itu akan menjadi target pasar perusahaan kelak setelah dapat memenuhi pasar buah di dalam negeri. Agar dapat bersaing dengan buah lokal sejenis dan buah impor, Sewu Segar tak cuma mengandalkan branding. Mereka juga memperhatikan kualitas dan kuantitas buah. Ini merupakan tantangan karena produksi buah sangat dipengaruhi oleh kondisi alam, iklim, hama, dan lain-lain. Beruntung, pemasok terbesar Sewu Segar adalah saudaranya sendiri. Great Giant Pinapple memiliki area perkebunan nanas seluas 33.000 hektare (ha) dengan volume produksi 500.000 ton nanas cayenne per tahun. Sebagian besar diekspor dalam bentuk kaleng, dan sebagian lagi ke pasar domestik. Untuk buah andalannya, yakni pisang cavendish, Sewu Segar mengambil dari Nusantara Tropical. Perusahaan yang berkebun di Way Jepara, Lampung, ini memiliki lahan seluas 2.000 ha. Sekitar 80% produksi buahnya dipasok ke Sewu Segar. Standardisasi kualitas, rasa, dan ukuran dari perusahaan produsen yang berorientasi ekspor memudahkan Sewu Segar dalam mendapatkan produk terbaik. Menurut Martin, pihaknya juga mengambil buah dari petani lain asalkan standardisasinya sesuai. Pertimbangannya adalah kondisi alam dan iklim, sehingga mereka perlu melakukan diversifikasi sumber agar risikonya terjaga tanpa melupakan standardisasinya. Dus, Sewu Segar membuka peluang kemitraan bagi masyarakat yang memiliki lahan cukup luas agar menjadi pemasoknya. Dalam menjaga kualitas, perusahaan yang berkantor di Tangerang ini juga harus mempertahankan rantai pemasarannya dengan membangun infrastruktur distribusi. Yaitu, mulai dari kebun ke gudang, pengepakan hingga ke gerai-gerai di pasar atau toko modern. Dengan mengusung tagline Fresh Everyday, Luthfi bilang, setiap hari mereka mengirim buah ke berbagai daerah di Sumatra dan Jawa. Armada transportasinya adalah 13 truk Fuso dan 56 truk kecil yang semuanya dilengkapi pendingin ruangan. Buah-buahan itu dimasukkan ke gudang-gudang di setiap kota distribusinya. Suhu menjadi kunci untuk menjaga kesegaran buah lantaran buah memiliki karakter yang khusus. Beberapa buah ada yang klimaterik, ada juga yang tidak, kata Martin. Buah klimaterik adalah buah yang mengalami lonjakan respirasi dan produksi etilena setelah dipanen. Jadi, buah seperti pisang dan pepaya harus diperam dulu agar jadi matang. Sedangkan buah nonklimaterik adalah buah yang tidak mengalami lonjakan respirasi maupun etilena sehingga buah jenis ini harus dipanen pada saat matang utuh. Karena itu, keberadaan truk berpendingin sangat vital. Jika buah sudah sampai ke tangan pembeli, Sewu Segar akan mempertaruhkan kualitasnya kepada pengecer. Agar tidak ada buah yang busuk saat dijual kepada konsumen, tim penjualan Sewu Segar memberikan edukasi tentang produk mereka. Hajatan ini diberikan kepada lebih dari 2.000 toko dan hipermarket, termasuk memberikan rekomendasi jumlah produk yang dapat dibeli konsumen atau dijual pengecer di gerainya. Kami menjual dengan sistem beli putus, sehingga jika buah busuk dan rusak menjadi risiko pengecer,kata Luthfi. Sedangkan menurut Martin, edukasi mengenai buah kepada masyarakat berperan penting dalam memenangkan persaingan. Selain beriklan, promosi dan booth khusus di supermarket, sunpride hadir dalam berbagai ajang terkait pola hidup sehat, seperti acara lomba lari dan komunitas berkebun. Dalam berbisnis buah-buahan, ujar Martin, branding yang dibuat harus selalu didukung oleh konsistensi produknya. Percuma membangun brand jika tidak memiliki produk yang konsisten kualitasnya,tandasnya. Setelah ada konsistensi produk, proses branding atau membangun merek juga harus konsisten agar mudah dikenal dan diingat masyarakat Menjaga Rantai Nilai Produk komoditas yang dijual dalam jumlah besar dengan beragam jenis, menurut Andre Vincent Wenas, pengamat manajemen dan dosen di IPMI Business School, mendorong setiap distributor untuk membuat diferensiasi. Lewat branding, Sewu Segar telah melakukan diferensiasi produk dengan komoditas lain yang sejenis, katanya. Alhasil, kualitas produk buahnya menjadi nilai tambahan yang diberikan untuk mendongkrak harga jual. Dengan label Sunfresh di pasar tradisional yang sensitif terhadap kenaikan harga, Sewu Segar masih dapat menjual produknya dengan harga lebih baik. Andre bilang, kebutuhan branding untuk komoditas buah timbul karena semakin berkembangnya rantai distribusi. Lihat saja perkembangan minimarket dan convenience store yang makin marak. Untuk meminimalkan risiko, toko tersebut harus mencari pemasok dengan jaminan kualitas bagus,imbuhnya. Dalam hal ini, sunpride bisa menjadi pilihan. Namun, agar rantai nilai tetap terjaga, Sewu Segar harus berpacu dengan waktu untuk mempertahankan kualitas dan kuantitas produknya. Pasalnya, waktu dapat mengubah rasa, kuantitas, kualitas, dan bentuk buah-buahan tersebut. Mereka harus menjaga infrastruktur distribusi dan supply chain agar tetap solid, tandasnya. Sementara Daniel Saputra, pengamat manajemen menilai, Sewu Segar harus lebih giat mengedukasi masyarakat tentang manfaat buah. Misalnya untuk iklan, pisang sebagai makan pagi adalah bagus untuk kesehatan, ujar dia. Untuk memperluas pasarnya, Daniel menilai Sewu Segar harus menjaga perputaran produknya dengan cepat. Itu tentu membutuhkan lebih banyak konsumen dan cabangnya. Dimuat di Majalah Kontan — Dian Pitaloka Saraswati, Handoyo – Pemenang Sunpride Writing Contest 2012

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *