Brook Preloader
Your Trusted 24 Hours Brook Service Provider !
Membina Buah Lokal agar Naik Kelas

Membina Buah Lokal agar Naik Kelas

42membina-buah-lokal-agar-naik-kelas Tingkat keberhasilan mendapatkan buah yang sesuai dengan standar kualitas yang ditetapkan perusahaan hanya satu banding lima. Berangkat dari kegelisahannya melihat pasar buah di Indonesia yang di banjiri buah impor, CEO PT Sewu Segar Nusatara Martin Minar Widjaja bertekad mengembalikan kejayaan buah lokal. Pria yang pernah bercita-cita menjadi insinyur pesawat itu kini justru terobsesi membuat buah lokal naik kelas. Ia tidak pernah menyerah dalam mengeksplorasi . Martin ingin buah-buahan tropis asli Indonesia memiliki kualitas nomr satu dan menjadi ratu di pasar lokal, tidak tenggelam oleh pesona buah impor. Melalui PT Sewu Segar Nusantara yang terkemuka dengan merek buah Sunpride, Martin mengaku menemukan wadah yang cocok untuk mewujudkan obsesinya “Menariknya bekerja di Sunpride, tidak pernah bosan karena hampir setiap hari ada tantangan baru. Buah bertambah terus. Ketertarikan di dunia ini membuat saya tidak mudah menyerah. Kegagalan justru memicu apinya lebih besar, lebih kiat lagi” ujarnya ketika membuka perbincangan di Jakarta, beberapa pekan lalu “Pasar Indonesia masih terlalu besar. Untuk penduduk sehari saja belum cukup kami kasih makan, kenapa haris jual-jual ke luar?” Martin bergabung dengan Sewu Segar Nusantara 12 tahun lalu. Seorang teman memintanya untuk mengisi posisi general manager di perusahaan tersebut, karena tertarik dengan tantangan di pasar buah-buahan, ia memutuskan hengkang dari perusahaan tekstil tempat ia bekerja selama lima tahun. “Saya jatuh cinta sama pekerjaan ini dan saya teruskan sampai sekarang. Saya penasaran, kenapa sih Indonesia yang segede ini tapi buah impornya lebih banyak dari pada buah lokal? Lama-lama saya jadi terobsesi untuk memenuhi kebutuhan lokal di pasar dalam negeri.” Ungkap Martin. Ketika ia bergabung pada 2000 silam. Sewu Segar Nusantara hanya memproduksi satu jenis buah, yakni pisang Cavendish. Perusahaan yang berkantor kecil di Jakarta tersebut hanya mampu memenuhi pasar untuk kebutuhan Jakarta. “Buah cuma satu macam, produksi kami hanya 1/20 dari yang ada sekarang. Mainnya di Jakarta, mobil tidak pakai pendingin. Ya perusahaan rumah tangga awalnya.” Kenangnya. Seiring dengan berjalannya waktu, pasar mulai diperluas. Produksi berkembang. Sewu Segar Nusantara kemudian mulai berani menjalin kerja sama dengan sejumlah petani untuk menambah jajaran Sunpride dengan jenis buah lokal. Standar Ekspor Martin mengungkapkan, sejak awal, perusahaan sudah membukan pasar dengan pisang Cavendish kelas konsumen yang menginginkan buah dengan kualitas ekspor. Hal itu membuat Martin dan timnya menerapkan standar tinggi kepada buah-buahan yang dilepas ke pasar dengan label Sunpride. “Ini yang disukai pasar. Di Inonesia yang bisa konsisten itu jarang. Konsisten itu misalnya di kadar kemanisannya. Kalau melon standar manisnya 12, dia akan tetap 12. Tidak mungkin di bawah itu. Kalu di bawah iitu, pasti sudah di tolak di lapangan,” Citra buah impor yang tengah naik daun ketika itu menguntungkan perusahaan. Pasalnya, merek Sunpride kerap mengecoh pasar. Banyak konsumen mengira Sunpride merupakan buah impor. Merek yang kebarat-baratan itu menurut Martin, dipilih karena saat diproduksi, pisang Cavendish ditargetkan menyasar pasar ekspor “Sehingga kami pakai bahasa inggris, jadi dikira buah impor Ada yang bilang pisang kami dari Singapura, Filipina. Waktu itu citra buah impor sangat baik sehingga kami menjadi man regional,” papar Martin Memproduksi buah dengan kualitas ekspor dan mempertahankan konsistensi mutunya ternyata bukan hal yang mudah. Diperlukan ketelatenan dan kesabaran untuk berksperimen hingga mendapatkan hasil maksimal/ Martin menyatakan tingkat keberhasilan mendapatkan buah yang sesuai standar kualitas yang ditetapkan perusahaan hanya satu banding lima. “Kebanyakan gagalnya daripada yang berhasil. Kami cari lima bibit unggul lalu kami coba tanam di berbagai tempat di Indnesia. Nanati yang akan nongol itu Cuma satu, Yang empat gagal karena kurang manis, daya simpan rendah, produktivitasnya rendah.” Setiap kali eksperimen, lanjut Martin lahan yang dibutuhkan 5-10 hektare. Lahan itu berada di tempat yang berbeda untuk ditanami jenis bibit buah yang sama. Eksperimen paling singkat membutuhkan waktu satu tahun. Namun kebanyakan lebih lama, 5-7 tahun. Martin menuturkan setiap buah memiliki cerita eksplorasi yang berbeda hingga menghasilkan kualitas terbaik. Misalnya untuk pisang mas, Sunpride memulai dengan menemukan pisang mas di daerah Jawa Timur. Para petani itu hanya menyasar pasar hingga ke Surabaya. “Kami lihat buahnya bisa bagus, mulus, kami datangi. Pak, kita besarin sama-sama yuk. Itu yang mulai petani, bukan dari kami bibitmya.” Lain lagi ceritanya dengan melon golden yang dikembangkan Sunpride. Pihaknya mencermati harga jual melon dari petani yang sangat rendah, hanya Rp. 3000 per kilogram. Karena prihatin dengan penghasilan petani melon tersebut dan terdorong kebutuhan menambah koleksi Sunpride, perusahaan menawari petani untuk menanam bibit unggul melon. “Jadi kami berikan bibit melon yang bisa kami beli dengan harga di atas Rp 7000, lebih tinggi dua kali kipat sehingga petani antusias. Rasanya lebih bagus, melonnya juga mulus dan garing. Kami memang memilih jenis buah yang nilai tambahnya tinggi,” ungkap Martin Saat ini ada sekitar 20 produk yang dihasilkan Sunpride. Sebanyak 80% merupakan buah lokal. Selain pisang yang menjadi primadona, di antaranya ada papaya, pir, apel pomelo, melon, jambu dan nanas. Kebutuhan sarana Semangat martin dalam mengeksplorasi dan bereksperimen tidak putus-putus. Namun, perusahaan yang dipimpinnya tidak bekerja sendiri. Begitu pula para petani. Ia menegaskan masih membutuhkan peran pemerintah untuk beberapa kendala, seperti masalah irigasi yang dihadapi petani dan keterbatasan infrastruktur yang menghambat distribusi dan perluasan pasar. “Indonesia itu ada 17 ribu pulau, letaknya terpencar. Jalanan masih rusak. Penyeberangan buah dari pulau ke pulau kan harus berpendingin, kalau tidak bisa rusak. Kami belum punya angkuatan kapal berpendingin. Ini tantangan terbesar kami.” Ke depan, Sunpride menargetkan eksansi ke Kalimantan, Sulawesi dan beberapa kota yang berada di dekat pulau Jawa. “Kalau ekspor kami belum, Pasar Indonesia masih terlalu besar. Untuk penduduk sendiri saja belum cukup kami kasih makan, kenapa harus jual-jual keluar? Jadi banjiri buah di dalam negeri dulu, baru kemudian ekspor.” Media Indonesia

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *