Your Trusted 24 Hours Brook Service Provider !
Jeruk Petani asal Batu akan Masuk Swalayan

Jeruk Petani asal Batu akan Masuk Swalayan

7116014054042013-09-17_09-40-41-jeruk-lokal-malang-300813-abs-2 (Berita Daerah – Jawa) Melalui kerja sama dengan Sunpride (PT Sewu Segar Nusantara), petani jeruk manis Pacitan (jeruk baby) di Kecamatan Junrejo, Batu, Jawa Timur, mulai menjajaki sebagai pemasok buah di pasar-pasar swalayan. “Untuk bisa menembus pasar swalayan ini memang harus memenuhi kriteria dan standar tinggi. Kerja sama yang difasilitasi oleh Sunpride ini baru kami lakukan, sehingga masih belum bisa diketahui bagaimana respon pasar,” ujar salah seorang petani yang rumahnya juga menjadi lokasi pengepakan Sunpride, Jayadi, di Batu. Dijelaskannya, proses pengiriman jeruk baby ke Sunpride baru dilakukan tiga kali masing-masing 1,5 ton. Namun, karena standarnya yang cukup tinggi tersebut, banyak buah yang sudah dipanen akhirnya disortir, sehingga harus dilempar ke pasar bebas. Jeruk yang akan dikirim ke Sunpride, lanjutnya, memang harus melewati proses pengepakan, mulai dari pembagian ukuran buah (sortir ukuran besar dan kecil), pencucian agar pestisidanya hilang hingga penyimpanan di gudang pendingin, baru dikirim sesuai pesanan. Lahan jeruk yang dikelola untuk memenuhi kebutuhan (pasokan) ke Sunpride di wilayah Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang dan di Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu itu mencapai 600 hektare. Manajer Produksi Sunpride Rully Hardiansyah mengatakan buah jeruk yang sudah dipak dan dikirim langsung didistribusikan ke sejumlah “buyer”, tanpa harus di uji ulang (disortir), sebab proses pengepakan di tingkat petani sudah melalui proses standar baku. “Untuk melalui tahapan proses tersebut, kami sudah bantu berbagai peralatan, termasuk gudang pendingin. Kalaupun ternyata ada yang tidak sesuai standar, pasti kami ingatkan melalui koordinator wilayah masing-masing,” ujarnya. Sementara Manajer Pemasaran Sunpride, Luthfiany Azwawie, mengatakan peluang pasar buah lokal masih sangat terbuka, sebab transaksi rata-rata per tahun mencapai Rp3 triliun, sementara saat ini masih belum terpenuhi seluruhya. Oleh karena itu, pihaknya bekerja sama dan memberikan edukasi pada petani dengan mengenalkan teknologi mulai dari pembibitan hingga pascapanen agar kualitas dan kuantitas panennya semakin meningkat dan harga jualnya juga tinggi. “Sampai saat ini, petani yang kita bina sekitar seribu orang di seluruh Tanah Air. Petani yang bekerja sama dan dibina tersebut adalah petani dari berbagai jenis buah yang dikembangkan, mulai jeruk, pisang emas, pepaya dan nenas,” ujarnya. Untuk rumah pengepakan sekarang ini baru ada empat lokasi, yakni rumah pengepakan pisang emas berada di Lumajang dan Dampit (Kabupaten Malang), pepaya di Kebumen dan jeruk baby di Junrejo, Kota Batu. Luthfiany menuturkan bahwa produk buah yang dipasarkan di sejumlah super market di Tanah Air tersebut sebagian besar adalah buah lokal, yakni mencapai 80 persen dan 20 persennya adalah buah impor, seperti kiwi dan pear, karena tidak bisa ditanam di Indonesia. Dari 80 persen buah lokal yang dipasarkan itu, 70 persennya adalah pisang Cavendish yang lahan tanamannya berada di Lampung seluas 3.500 hektare. “Tahun depan target pasar kita mampu tumbuh 40 persen dari tahun ini yang mencapai 3 juta box dan setiap box berisi 13 kilogram. Tahun lalu, buah segar yang didistribusikan hanya 2,4 juta box,” tutupnya.

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *